WELCOME

Catatan

Cerita

Tips

Opini

Kamis, 05 November 2020

Cerpen : Untuk Pertama Kalinya (Juara 2 Lomba Cerpen DEMA FAH UIN STS Jambi)

 

Untuk Pertama Kalinya

Oleh : Nabila Permatajeri

 

Siang itu saat cuaca sedang teriknya, Tita melangkahkan kaki menuju tempat kosnya. Berniat melepas penat sejenak sembari mengisi perut yang sedari tadi keroncongan, maklum sudah jam rawannya. Setelah bersih - bersih dan merapikan kembali kamarnya tita beranjak menuju kasur, ya tempat andalan disaat lelah menerpa tubuhnya.

Sembari melepas penat, tiba - tiba Tita teringat akan percakapannya di kampus tadi bersama rekannya, Nini.

 

“Ta, nggak kerasa ya bentar lagi Ramadhan udah mau datang.”

“Eh iya ya Nin, kurang dari 2 bulan lagi Ramadan udah datang.”

“Hmmm, Ramadhan kali ini pasti beda ya Ta, secara kita kan baru pertama kali hidup di rantau orang, jauh dari keluarga, nggak ada ibu yang bangunin, ntar sahurnya bakal sendirian, kira - kira aku bakal kuat nggak ya?”

“Ya ampun Nin, udah gede juga lagian puasanya kan masih 2 bulan lagi, yuk ah kita jalan.” tutup Tita mengakhiri percakapan.

 

Percakapan singkat yang tak begitu dihiraukan Tita tadi kini berhasil menjamah pikirannya, ‘ternyata ada benarnya juga yang di omongin Nini tadi’ gumam Tita. Ah sudahlah, toh juga masih hitungan bulan pikirnya lagi.

 

******

Sudah berapa hari berlalu dari kejadian itu, barangkali mereka juga sudah lupa tentang percakapan tempo hari.

 

Tita membuka layar ponselnya, ada pesan masuk. Bergegas di bukanya pesan itu.

“Ta, kamu udah dapat info surat edaran rektor belum? Terkait kuliah daring untuk mencegah penularan virus.”

Begitulah isi pesan singkat yang ternyata pengirimnya Nini.

 

Setelah mencari kebenaran informasi dari Nini, dan dengan berbagai pertimbangan akhirnya Tita memutuskan untuk Pulang ke kampung halaman sementara waktu selama masa pekuliahan daring.

******

Masa itu, virus menular kian merebak di Indonesia. Hari demi hari semakin bertambah jumlah korban, di sisi lain ada korban yang berhasil sembuh, namun tentunya dengan jumlah yang lebih sedikit.

Keadaan kian mencengkam, pemerintah mengeluarkan kebijakan. Saat itu tidak ada yang keluar rumah terkecuali jika ada keperluan, jalanan yang biasanya ramai kini sepi tak berpenghuni. Pasar, sekolah, bahkan tempat ibadah pun terpaksa ditutup untuk sementara waktu. Hanyalah kesunyian yang tiada berteman.

 

Menuju bulan ke-tiga semua berada di rumah. Tak ada yang berlalu lalang dijalanan. Semua pekerjaan dipindahkan ke rumah, mereka menyebutnya Work From Home atau jika dianalogikan untuk anak sekolah maka mereka menyebutnya Belajar dari Rumah. Begitulah keadaannya, berupa ketetapan-Nya yang tak dapat terelakkan. Bulan Ramadhan segera tiba, sudah didepan pintu. Semua bermunajat agar virus itu segera musnah, namun siapa sangka saat Ramadhan tiba si virus itu belum juga pergi.

 

Dengan segala keterpaksaan pemerintah kembali mengeluarkan kebijakan, bahwasannya dianjurkan untuk beribadah di rumah saja, untuk sementara waktu Masjid - masjid masih ditutup demi kemaslahatan bersama.

 

Untuk yang pertama kalinya, tidak ada shalat tarawih berjamaah di Masjid, tidak ada pasar bedug yang hadir sekali dalam setahun dibulan Ramadhan, tidak ada pemuda yang dengan riangnya berkeliling membangungkan sahur, tidak ada acara kumpul bersama kerabat ataupun keluarga besar.

 

Seketika air mata Tita merembah, Ramadhan yang selalu dinantinya kini tak dapat ia nikmati seutuhnya, ada ego yang harus ditahan. Rencana - rencana yang sudah disusunnya kini berantakan. Ia pun sudah berada di kampung jauh dari rencana kepulangan yang seharusnya.

 

Kini, untuk pertama kalinya ada banyak Imam shalat tarawih di setiap rumah, bukannya hanya di setiap masjid komplek. Untuk pertama kalinya juga tidak ada sanak saudara yang pulang dari perantauan, momen yang selalu dinanti kini hanya tinggal angan yang tak mungkin segera terwujud.

 

******

Menjelang hari kemenangan, Tita teringat Nini. Sudah berbulan lamanya mereka tak bertemu, yang biasanya mereka selalu bertemu di kampus sekarang hanya bertemu di dunia maya, wajar saja jika ada kerinduan diantara keduanya. Sudah setengah jam mereka bercengkrama di ponsel, kalau sudah bercerita mereka memang suka lupa waktu. Disela obrolan mereka, tiba - tiba..

“Ta, aku jadi ingat sesuatu deh.” celetuk Nini

“Sesuatu apa sih Nin? Jangan buat aku penasaran dong.” sanggah Tita

 

Ternyata Nini teringat akan percakapan yang lalu tempo hari di kampus.

“Iya aku teringat kalau dulu kita pernah ngomong Ramadhan kali ini bakalan beda dan untuk pertama kalinya Ramadhan di rantau orang. Kamu ingat nggak ta?”

“Oh iya aku ingat, dan ternyata itu semua nggak terjadi ya, hal - hal yang kamu takuti juga nggak terjadi kan Nin, yaudah sih syukurin aja menurut aku.” Jawab Tita.

 

Namun, bukan itu hal utama yang ingin disampaikan Nini. Melainkan ia begitu bersyukur, “dibalik sesuatu yang Allah timpakan kepada makhluknya ternyata ada hikmah yang begitu luar biasa, salah satu nya kita yang tahun ini masih bisa merasakan Ramadhan satu bulan penuh di kampung halaman, ketakutan yang dulu aku bayangkan tidak terjadi, selain itu dengan tidak adanya kegiatan di luar jadi buat aku lebih fokus menjalankan setiap ibadah”, papar Nini panjang lebar.

 

Tita yang mendengar di ujung ponsel begitu mengharu biru, begitu tertampar ia rasanya. Bagaimana tidak, ia selama ini hanya memandang dari sisi negatif, beruntung ia diingatkan oleh sahabatnya, Nini.

 

Usai bercengkrama dengan Nini melalui ponsel tadi Tita masih terngiang akan apa yang dikatakan Nini tadi, sebegitu pandai sahabatnya melihat dengan kaca mata yang berbeda dari dirinya, malu seketika hinggap pada dirinya. Di sepuluh malam terakhir tak lupa Tita bermunajat, memohon ampun atas apa yang selama ini dilalaikannya. Dan untuk pertama kalinya pula Tita tak pernah absen untuk hadir bersujud di sepertiga malam. ‘Ramadhan tahun ini mengubah banyak ketidakmungkinan yang menjadi mungkin, tak bisa menjadi bisa, Terimakasih Ya Allah untuk segala nikmatMu’ gumam Tita.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna Veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat.

0 komentar:

Posting Komentar

Contact Me

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Cerpen : Untuk Pertama Kalinya (Juara 2 Lomba Cerpen DEMA FAH UIN STS Jambi)

  Untuk Pertama Kalinya Oleh : Nabila Permatajeri   Siang itu saat cuaca sedang teriknya, Tita melangkahkan kaki menuju tempat kosnya. Berni...

Adress/Street

12 Street West Victoria 1234 Australia

Phone number

+(12) 3456 789

Website

www.johnsmith.com